Sabtu, 01 Desember 2012
99 Cahaya Di Langit Eropa
Inilah Novel terbitan baru yang
membuat para pembaca semakin terkagum dengan hal-hal yang menarik, kisah
perjalanan menapaki jejek islam di Eropa. Novel karya Hanum Salsabiela Rais dan
Rangga Almahendra ini memang memiliki keunikan tersendiri. Orang akan menyukai
novel ini dari saat pertama kali melihat sampulnya.
Aku mengucek-ucek mata.
Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi
saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan
berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada
lukisan itu. "Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu
bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,"
ungkap Marion akhirnya.
***
Apa yang Anda bayangkan jika mendengar
"Eropa"? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?
Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri
tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan saya, Islam.
Buku ini bercerita tentang perjalanan
sebuah "pencarian". Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah
dipancarkan Islam di benua ini.
Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan
orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil alamin.
Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa lalu.
Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.
Pada akhirnya, di buku ini Anda akan
menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum. Lebih... sungguh lebih
daripada itu.
***
"Buku ini berhasil memaparkan secara
menarik betapa pertautan Islam di Eropa sudah berlangsung sangat lama dan
menyentuh berbagai bidang peradaban. Cara menyampaikannya sangat jelas, ringan,
runut, dan lancar mengalir. Selamat!"
–M. Amien Rais
(Ayahanda Penulis)
"Pengalaman Hanum sebagai jurnalis
membuat novel perjalanan sekaligus sejarah ini mengalir lincah dan indah.
Kehidupannya di luar negeri dan interaksinya dengan realitas sekulerisme
membuatnya mampu bertutur dan berpikir 'out of the box' tanpa mengurangi esensi
Islam sebagai rahmatan lil alamin."
–Najwa Shihab
(Jurnalis dan Host Program Mata Najwa, Metro TV)
"Karya ini penuh nuansa dan gemuruh
perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam yang jauh maupun
pada masa sekarang, ketika Islam dan Muslim berhadapan dengan realitas kian
sulit di Eropa."
–Azyumardi Azra
(Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN, Jakarta)
"Hanum mampu merangkai kepingan
mosaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu. Lebih jauh lagi,
melihat nilai-nilai Islam dalam kehidupan Eropa. Islam dan Eropa sering
ditempatkan dalam stigma 'berhadapan', sudah saatnya ditempatkan dalam kerangka
stigma 'saling menguatkan'."
–Anies Baswedan
(Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Indonesia Mengajar).
Laskar Pelangi
Identitas Buku
Judul
: Laskar Pelangi
Pengarang
: Andrea Hirata
Penerbit
: 2008
Tahun
terbit : Bentang
Sinopsis
:
Awal persahabahatn itu
dimulai pada sebuah sekolah SD Muhammadiyah. Persahabatan antara 11 murid SD Muhammadiyah.
Pada awalnya persahabatan itu hanya terdiri dari 10 anggota. Orang tua
mempunyai alasan mendaftarkan anaknya di sekolah Muhammadiyah karena sekolah
Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun, atau karena firasat
mereka bahwa anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan
iblis sehingga sejak muda harus mendapatkan pendadaran Islam yang tangguh. Atau
bahkan mungkin karena anaknya memang tidak diterima di sekolah manapun. Karena
Muhammadiyah merupakan sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Bahkan
awalnya kekurangan murid. Muncul kecemasan pada wajah Bu Mus atau N.A. Muslimah
Hafsari binti K.A. Abdul Hamid dan Pak Harfan atau Bapak K.A. Harfan Effendy
Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Karena saat itu tidak genap 10 anak yang
mendaftar dan hampir sekolah itu ditutup. Tapi kemudian muncul Borek sebagai
penyelamat mereka, sehingga sekolah tidak jadi ditutup dan sekolah dilanjutkan.
Muhammdiyah memang
kekurangan guru, jadi selama 6 tahun di SD Bu Mus mengajarkan semua mata
pelajaran, mulai dari menulis indah, Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Ilmu
Bumi sampai Matematika, geografi, prakarya dan praktik olah raga. Bu Mus hanya
memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri) namun beliau bertekad
untuk terus mengobarkan pendidikan Islam walaupun hanya memperoleh upah 15
kilogram beras setiap bulan. Beliau bersama pamannya Pak Harfan, selaku kepala
sekolah Muhammadiyah merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang menjadi pelita
bagi para Laskar Pelangi.
Anggota laskar pelangi
bertambah satu setelah Flo datang. Flo dulunya bersekolah di sekolah PN
(Perusahaan Negara) milik PN Timah adalah sebuah perusahaan yang paling
berpengaruh di Belitong, karena timah merupakan denyut nadi pulau Belitong. Flo
seorang gadis dengan postur tubuh tinggi rata-rata, tomboy dan merupakan
seorang gadis yang nakal, tidak seperti anggota laskar pelangi yang lainnya,
Flo berasal dari keluarga yang berlimpah harta. Florina yang merupakan anak
bungsu dari keluarganya, tidak suka menerima dirinya sebagai perempuan karena
mungkin Flo adalah anak perempuan satu-satunya dikeluarganya. Florina memiliki
ketertarikan yang sama seperti mahar dalam metafisika.
Mahar merupakan salah satu
anggota laskar pelangi selain Trapani, Syahdan, Harun, Borek, Kuncai, A Kion,
Sahara, Lintang, dan Ikal. Mahar adalah anak laki-laki yang tampan seperti
halnya Trapani dan pintar seperti Lintang. Mahar seorang pesuruh tukang parut
kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan
sering diremehkan sahabat-sahabatnya. Namun ia berhasil mengangkat derajat
sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus dengan menjadi koreografer
dalam koreografi massal suku Masai dari Afrika yang dibuatnya.
Mahar adalah seniman
yang hidup diantara orang yang tidak mengerti arti seni, sehingga kadang kala
di dalam anggota Laskar Pelangi, Mahar sering dianggap “gila”. Walaupun begitu,
tetap ada yang memandang tinggi Mahar yaitu Akiong. Akiong selalu berdebat
dengan Sahara. Sahara adalah seorang gadis berjilbab dan keras kepala. Sahara
sering mendengarkan Harun, seorang anak kecil yang terperangkap di tubuh orang
dewasa yang selalu menceritakan tentang kucingnya yang berbelang tiga,
melahirkan anak tiga, semua anaknya berbelang tiga. Suasana kelas anggota
Laskar Pelangi selalu diwarnai oleh
pelangi kegeniusan. Mahar yang lebih spesifik dengan seni dan Lintang yang
spesifik dengan bidang eksak.
Lintang adalah seorang
anak yang ditunangkan dengan ilmu. Seorang kuli kopra cilik, yang genius dan
senang hati bersepeda 80 kilo meter pulang pergi hanya untuk sekolah di SD
Muhammadiyah, bahkan terkadang hanya sekedar untuk menyanyikan lagu Padamu
Negeri di akhir jam sekolah. Seorang anak yang gigih bahkan telah menyumbangkan
sebuah kemenangan bagi sekolah kampung Muhammadiyah dalam lomba cerdas cermat
dengan mengalahkan sekolah PN. Namun semenjak ayahnya meninggal, ia harus
menanggunghidup keluarganya dan harus putus sekolah. Hal ini sangat disayangkan
karena lintang anak yang cerdas, bahkan Bu Mus meneteskan air mata ketika
membaca surat dari Lintang. Lintang adalah anggota Laskar Pelangi yang telah
memberikan keberanian bagi para anggota Laskar Pelangi lainnya untuk bermimpi.
Ikal adalah teman
sebangku Lintang, mereka sebangku karena memiliki kemiripan berambut ikal.
Ikal, anak seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil. Ikal
seorang anak laki-laki yang merasakan cinta pada pandangan pertama di toko
kelontong dengan seorang gadis Tionghoa bernama A Ling. A Ling adalah sepupu
dari Akiong, merupakan gadis yang memiliki kuku manis dan bermuka simetris.
Ikal kenal dengan akiong karena Ikal sering mengambil kapur tulis di toko
“Sinar Harapan” yang disuruh Bu Mus.
Ada hal tragis dan
bahagia yang terjadi 12 tahun kemudian. Hal tragis dialami oleh Lintang, yang
semenjak putus sekolah, menjadi seorang sopir truk pasir di bedeng kuli.
Walaupun begitu, Lintang telah berhasil mewujudkan impian ayahnya yaitu agar
Lintang tidak memiliki pekerjaan yang sama seperti ayahnya sebagai seorang
nelayan. Seorang calon metmatikawan pertama di Belitong yang berakhir di bedeng
kuli. Ketragisan kisah antara anak dan ibu, Trapani dan ibunya tinggal dirumah
sakit jiwa sungai liat yang disebut Zaal Batu, dikarenakan perilaku mother
complex yang sangat ekstrem. Namun akhirnya Trapani dan ibunya dapat keluar
karena mengalami kemajuan.
Kucai yang dulu selalu
menjadi ketua kelas, telah menjadi Drs. Mukharam Kucai Khairani, MBA dan selalu
berpakaian safari. Dulu dikelas otaknya paling lemah, sekarang gelar
akademiknya termasuk paling tinggi diantara anggota Laskar Pelangi. Sekarang ia
bekerja sebagai salah satu anggota DPRD di Belitong. Mahar telah menjadi
seorang pengajar dan mengorganisasi berbagai kegiatan budaya, serta melatih beruk
memetik buah kelapa.
Ikal sang pemimpi
menjadi pegawai pos, tukang sortir, bagian kiriman peka waktu, shift pagi yang
bekerja mulai shubuh walaupun sebenarnya dulu Ikal tidak ingin menjadi orang
yang bekerja shubuh. Sang pemimpi ini kemudian kembali berani bermimpi meraih
Endesor semenjak Ikal mengetahui bahwa adanya beasiswa Uni-Eropa. Tujuan
barunya dalam pengejaran meraih beasiswa tersebut.
Ronggeng Dukuh Paruk
Identitas
Buku
Judul :
Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang :
Ahmad Tohari
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Tahun penerbit :
1998
Sinopsis Ronggeng Dukuh Paruk
Dukuh Paruk adalah sebuah desa yang
terkenal dengan seorang ronggeng yang mampu menghidupkan desanya sampai ke kota
dan pelosok desa lain. Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah dukuh paruk. Dukuh
paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat si Secamenggala, ada seloroh
cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya. Ki
Secamenggala, konon merupakan nenek moyang semua orang dukuh paruk, yang
merupakan seorang bromocorah yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai
tempat menghabiskan riwayat keberadaannya.
Namun, setelah beberapa tahun
berlalu dukuh paruk seakan sepi karena tidak ada lagi seorang ronggeng.
Ronggeng yang terakhir sudah mati sejak dua belas tahun yang lalu. Kemudian
muncullah benih-benih ronggeng dalam diri Srintil. Srintil adalah gadis kecil
berusia 11 tahun . Sejak kecil Srintil diasuh oleh kakek dan neneknya, karena
orang tua Srintil telah meninggal dunia sejak Srintil berusia 5 bulan. Orang
tua Srintil meninggal dunia karena terkena racun tempe bongkrek buatan ibunya
sendiri. Bakat menari Srintil telah diketahui kakeknya. Karena kakeknya sering
memperhatikan Srintil menari di bawah pohon nangka bersama ketiga temannya,
yaitu Rasus, Warta, dan Darsun. Kakek Srintil yang bernama Sakarya, percaya
bahwa Srintil telah kemasukan indang. Indang adalah semacam wangsit yang
dimuliakan di dunia peronggengan. Dari cara Srintil menari, lenggak-lenggoknya
sama seperti tarian yang dilakukan oleh ronggeng. Sebab bagaimanapun diajari,
seorang perawan tidak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah
merasukinya.
Beberapa hari kemudian Sakarya
menceritakan tentang apa yang dilihatnya pada diri Srintil kepada Kartareja, yang
secara turun temurun menjadi dukuh ronggeng di Dukuh Paruk. Untuk pertama
kalinya Srintil menari dihadapan banyak orang. Di rumah Kartareja, Srintil
dirias oleh Nyai Kartareja. Srintil didandani layaknya seorang ronggeng dewasa.
Nyai Kartareja tak lupa meniupkan mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil. Mantra
yang di Dukuh paruk dipercaya akan membuat siapa saja tampak lebih cantik dari
sebenarnya, beberapa susuk emas juga dipasang. Semua pandangan tertuju pada
Srintil ketika dia muulai menari.
Dua bulan sudah Srintil menjadi
ronggeng, namun masih ada tahapan yang harus dilaluinya, sebelum Srintil
menyebut dirinya ronggeng. Salah satu diantaranya adalah upacara pemandian yang
secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup Ki Secamenggala. Semua warga
tidak ada yang melakukan aktivitas pagi itu, karena menyaksikan upacara
pemandian ronggeng yang jarang terjadi. Setelah upacara pemandian selesai,
calung mulai dimainkan dan sang ronggeng mulai melenggok. Tiba-tiba Kartareja
memanggil, tatapan matanya yang terbeliak menatap mulai mendekati Srintil dan
menari bersamanya. Hanya Sakarya yang paham bahwa Kartareja telah dirasuki oleh
arwah Ki secamenggala. Namun itu menandakan bahwa Srintil telah diterima oleh
ruh Ki Secamenggala untuk menjadi ronggeng sejati. Upacara pemandian di
perkuburan itu bukan syarat terakhir seorang gadis untuk menjadi ronggeng
sejati.
Orang dukuh paruk mengatakan bahwa
Srintil harus menyelesaikan satu syarat lagi. Syarat terakhir yang harus
dipenuhi Srintil adalah bukak-klambu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara
terbuka bagi laki-laki manapun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon
ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh
dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu. Rasus sudah mengetahui bahwa
ada dua pemuda yang memenangkan sayembara itu, yaitu Dower dan Sulam. Sulam
sudah menyerahkan seringgit uang emas dan Dower menyerahkan seekor kerbau dan 2
rupiah uang perak kepada Ki Kertareja. pada malam yang telah ditentukan,
Srintil akan menjalankan tahap selanjutnya yaitu bukak-klambu. Kedua pemuda itu
bertengkar siapa yang akan mendapat giliran pertama. Rasus mendengar
pertengkaran tersebut. Tanpa diduga, saat Rasus dalam keadaan sedih, tiba-tiba
Srintil menghampiri Rasus dibelakang rumah Kertareja. Srintil memohon kepada
Rasus untuk menidurinya waktu itu. Srintil memaksa Rasus untuk menidurinya dan
dengan akhirnya virginitas Srintil sudah diambil Rasus. Rasus adalah laki-laki
yang sangat di cintai oleh Srintil.
Rasus kemudian memutuskan untuk mengasingkan
diri ke desa Dawuan. Karena jika ia tetap di Dukuh peruk, sering muncul dalam
diri Rasus bayangan Srintil sebagai Emaknya. Rasus telah mengalah dan
membiarkan Sritil menjadi milik orang banyak dan menjadi ronggeng kebanggaan
dukuh paruk, setelah ia menolak Srintil, ketika Srintil memintanya untuk
menjadi suaminya.
Pasar Dawuhan sedikit demi sedikit
mulai merenggangkan hubungan Rasus dengan Srintil. Pasar Dawuhan memberikan
cakrawala luas kepada Rasus tentang banyak hal. Pengalaman Rasus di pasar Dawuhanlah
yang banyak memberinya pelajaran. Dunia yang dulu ia kenal hanyalah Dukuh
Paruk, ternyata nilai-nilai yang berada di dukuh paruk tidak berlaku secara
umum. Pasar Dawuhan juga menjadi tempat pertemuan antara Rasus dengan Srintil.
Di pasar Dawuhan juga Rasus juga bertemu dengan Sersan Slamet. Karena
pengabdian Rasus, kemudian ia diangkat menjadi tentara. Tugas pertama yang
harus ia jalankan yaitu ia harus berjaga di dukuh paruk, karena Sersan
menganggap bahwa Rasuslah yang lebih mengetahui seluk-beluk tentang Dukuh
Paruk. Ketika itu ia mendapat tugas berjaga dengan kopral Pujo. Banyak
perampokan yang terjadi di kecamatan Dawuhan, termasuk Dukuh Paruk. Untuk itu
Rasus ikut terlibat karena kekurangan tentara. Tak terasa Rasus telah dua tahun
meninggalkan Dukuh Paruk, karena ia lebih banyak menghabiskan waktunya di
Dawuhan dan menjadi tentara. Ketika ia kembali ke Dukuh Paruk untuk menjalankan
tugasnya. Ia menyempatkan diri untuk menemui Srintil. Srintil sering ngomong
kepada Rasus, bahwa ia menginginkan
sebuah pernikahan dan menjadi wanita yang sejati dengan menjadi seorang
ibu. Namun Rasus masih tidak bisa mengabulkan.
Sudah lama Srintil tidak menari
menjadi ronggeng karena ada suatu permasalahan dengan Bakar, yang merupakan
rekan kerjasama antara sang ronggeng maupun pemain calung. Bakarlah yang selama
ini mempromosikan ronggeng sampai ke desa lain. Namun karena terjadi
perselisihan mereka menjadi musuh. Terjadilah pemberontakan di Dukuh Paruk
serta di perkuburan Ki Secamenggala. Karena mereka tidak menerima perlakuan
Bakar, akhirnya Srintil dan Sakum melaporkan perbuatan Bakar ke polisi. Namun
yang terjadi malah semuanya ditahan. Hanya Srintillah yang tidak tahan karena
kecantikannya. Namun akhirnya Srintil juga merasakan dalam sel tahanan.
Pengalaman Srintil sebagai tahanan
menyadarkan ia tentang harkatnya sebagai manusia. Karena itu ia mempunyai
keinginan untuk memperbaiki diri. Muncullah Bajus dalam kehidupannya. Bajus
adalah salah satu pekerja proyek yang ikut dalam pembangunan di dukuh paruk.
Karena nenek Srintil berjualan pada saat pembangunan tersebut berlangsung, jadi
Bajus sering berkunjung dan akhirnya merekapun dekat. Srintil telah menaruh
harapan yang besar kepada Bajus untuk dapat menemani hidupnya dan merubahnya.
Karena Srintil terpengaruh oleh cerita-cerita Bajus, akhirnya Srintil mau saja
ketika ia diajak oleh Bajus ke kota dan diperkenalkan dengan bos Bajus.
Harpan yang berkobar itu dalam
seketika hilang dan menjadi sebuah sesal dan tangis hanya karena iming-iming
uang yang banyak dan pekerjaan yang diberikan oleh bos Bajus. Karena kejadian
itu jiwa Srintil terguncang dan mengalami gangguan. Bajus sadar Srintil menjadi
berubah karena perbuatannya. Bajus kemudian membawa Srintil kembali ke Dukuh
Paruk bersama nenek dan kakeknya. Rasus yang telah lama berkelana, seketika
langsung kaget ketika ia kembali ke Dukuh Paruk dan melihat perubahan dalam
diri Srintil. Memang hanyalah Rasus yang dapat merubah Srintil menjadi kembali
seperti semula, hanya kata-katanyalah yang diperhatikan oleh Srintil. Ternyata
apa yang dikatakan oleh mendiang Sakarya tentang bulan berkalang bianglala
adalah datangnya masa susah Dukuh Paruk, dan itu memang terjadi di Dukuh Paruk.
Ayat-Ayat Cinta
Identitas
Buku
Judul : Ayat-ayat Cinta
Pengarang : Habiburahman El Shirazy
Penerbit : Republika
Tahun terbit : 2007
Sinopsis Novel Ayat-Ayat Cinta
Seorang pemuda yang berasal dari
Indonesia yang berkeinginan untuk melanjutkan kuliah di universitas tertua di
dunia yang letaknya berada di delta Nil. Meski sebenarnya orang tuanya harus
menjual sawah yang sebenarnya warisan dari kakeknya. Akan tetapi dengan
keterbatasan dirinya dalam biaya hidup akhirnya dia dapat menyongsong masa
hidupnya dengan mandiri sehingga menjadikan hidupnya bahagia, pemuda itu adalah
Fahri tokoh utama dalam novel ini. Fahri merupakan orang yang sangat disayangi
para sahabat-sahabatnya dan di lingkungannya. Karena setiap perilaku dan
aktivitas yang Fahri kerjakan selalu dicermatinya dan berdasarkan refrensi dari
kitab-kitab dan ulama, sehingga jarang yang memperlakukannya seperti
memperlakukan musuh. Di Mesir Fahri tinggal disebuah flat yang sangat sederhana
bersama dengan teman-temannya yang berasal dari Indonesia, walaupun didalam
flat yang sangat sederhana mereka tidak mengeluh dan bersedih. Melainkan mereka
sangat bahagia dan harmonis, mereka saling bahu –membahu saling memberikan
sesuatu yang terbaik untuk flatnya.
Beberapa teman Fahri yang tinggal diflat
itu adalah Hamdi, Rudi, Misbah, Saiful. Saiful dan Rudi baru tingakat tiga dan
mau masuk ketingkat empat, Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu
pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence. Fahri sekarang
tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Hari-hari
selalu dilewati dengan sangat terkontrol
sehingga dalam pekerjaan yang akan dihadapinya sepuluh tahun mendatang. Fahri
sudah merencanakannya dengan baik, karena Fahri terinspirasi dari kata-kata
“Hidup tanpa tujuan tidak akan membuat Kemajuan walaupun jalan yang ditempuhnya
jalan yang mudah, akan tetapi hidup dengan tujuan akan membuat kemajuan
walaupun jalan yang ditempuh dengan sulit”. Fahri pun menikahi seorang wanita
yang bernama Aisyah yang berlatar belakang keluarga kaya dan mereka pun hidup
bahagia.
Namun hal yang tragis terjadi pada hubungan mereka,
orang-orang yang menyukai Fahri tiba-tiba jadi berubah. Mereka adalah wanita-wanita
yang dulu menyukai Fahri. Akan tetapi mereka malu untuk menunjukan rasa sukanya
kepada Fahri. Noura adalah wanita malang yang selalu disiksa oleh keluarganya
dan akhirnya ditolong oleh Fahri. Karena Fahri pun merasa iba melihat wanita
yang disiksa, dan akhirnya Noura pun bebas dari penderitaanya dan menemui suatu
keabadian ketika para dokter menyatakan bahwa Badrun bukan orang tua asli
Noura, namun kebaikan Fahri di balas dengan suatu penghinaan hingga Fahri
dimasukan kedalam penjara karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap
Noura hingga hamil.
. Maria adalah gadis yang cerdas,
akan tetapi dia beragama Katolik yang hafal dengan surat mariam. Maria mempunyai
kepribadian yang manja. Akan tetapi dia sangat cerdas. Menurut keterangan orang
tuanya, Maria adalah gadis pemalu. Namun ketika mendengar bahwa Fahri telah
menikah. Maria pun jadi jatuh hingga tak sadarkan diri, menurut diagnosa dokter
Maria sakit karena frustasi, dan para dokter menyarankan bahwa maria bisa
sembuh kalau mendengar seseorang yang sangat disayanginya. Adapun orang yang
disayanginya adalah Fahri. Walaupun pada akhirnya Maria meninggal dunia, akan
tetapi sebelum Maria meninggal dunia Fahri telah menikahinya. Itu pun pada
awalnya ditolak oleh Fahri akan tetapi itu semua adalah idenya Aisyah istri
Fahri yang pertama, Aisyah menyarankan ide itu karena nasib Fahri ada di tangan
Maria karena setelah Noura mengajukan surat pelecehan seksual terhadap Fahri
kepengadilan, Fahri tidak dapat berbuat apa-apa, karena hanya Maria saksi hidup
yang dapat menyatakan bahwa dirinya tak bersalah. Inilah bukti kesetiaan Maria
terhadap Fahri.
Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu
Judul : Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu
Menyekolahkanmu
Pengarang :
Wiwid Prasetya
Penerbit : Diva Press
Tahun terbit : 2010
Sinopsis Novel Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu
Belajar dari pengalaman dari Pulau
Kyoshu, Jepang dimana pantai tersebut tercemar limbah perusahaan-perusahaan
akibat ulah tangan manusia yang kurang memperhatikan lingkungannya. Seorang
professor yang bernama Nakamura bersama tiga orang asistennya sedang berjalan-jalan
dipinggiran pantai Kyoshu tersebut dan mendapati kehidupan yang sangat
mengerikan sekali. Daerah tersebut seakan mati tanpa ada kehidupan, bahkan tak
ada satupun orang yang tinggal disana. Profesor Nakamura dan ketiga asistennya
yang bernama David, Kawaguchi, dan Raga. Raga adalah sukarelawan dari Indonesia
yang diajak Profesor belajar ke Jepang.
Profesor Nakamura bekerja di sebuah LSM
lingkungan hidup, dimana melihat kehidupan yang seperti itu kemudian Profesor
mengadakan Observasi, mencatat, memferifikasi dan menyimpulkan tentang
permasalahan yang ada di Pulau Kyoshu tersebut. Dengan keinginan keras dan mau
bekerja keras untuk merubah keadaan yang ada, Pprofesor mengajak semua warga
untuk banngkit dan lebih memperhatikan lingkungannya. Sehingga dengan keinginan
semangat untuk merubah kehidupn jadi lebih baik akhirnya kita akan mencapai
perubahan itu.
Raga kembali pulang ke anah airnya yaitu
Indonesia, terutama di Ratatotok Minahasa tempat kelahirannya. Perayaan adat
menyambut kedatangannya karena Raga sudah sukses menimba ilmu di Jepang.
Akhirnya melihat keadaan tanah kelahirannya yang miskin dengan kekayaan
alammnya yang melimpah, dibandingkan Jepang yang hanya mengandalkan
pulau-pulaunya yang tandus. Raga bercerita panjang lebar tentang kehidupannya
di Jepang, lalu Wak Bajo dan anaknya tiba-tiba bosan melihat ceramah yang
dilakukan oleh Raga. Wak Bajo mengajak anaknya untuk pergi eninggalkan Raga.
Mereka lebih mementingkan melanjutkan pekerjaannya demi mendengarkan ceramah
yang dianggapnya tidak penting dari pada bekerja untuk mencari makan.
Wenas sudah siap untuk mencabut singkong
dikebunnya dan kali ini mereka berharap panen kebunnya akan berhasil. Wak Bajo
tak pernah makan kenyang mereka selalu berfikir untuk bagaimana cara memenuhi
rasa laparnya hari demi hari. Singkong yang diharapkannya ternyata tidak
membawakan hasil. Panen singkong kali ini gagal, tak ada satu pun batang pohon
singkong itu yang berbuah. Dengan hati yang sedih Wak Bajo dan anaknya
mensyukuri semua itu. Mungkin Allah belum member rizki kepada kita. Wak Bajo
pun menasihati anaknya dengan keadaan yang telah menimpanya dengan rasa kelaparan
yang setiap hari menemaninya. Wak Bajo tidak bisa memberikan makanan untuk
anaknya kali ini dan menyuruh anaknya untuk tidur sebagai pelepas rasa
laparnya. Wak Bajo sedih sekali karena sebagai orang tua dia tidak bisa
memberikan makan kepada anaknya. Anak perempuannya sudah tumbuh besar dan sudah
mulai mengerti kesusahan yang dialami ibunya. Hari demi hari dilaluinya dengan
rasa lapar dan kemiskinan. Wak Bajo mengisi kelaparan anaknya dengan
nasihat-nasihat agar Wenas menjadi orang yang taat kpada Allah. Meski kehidupan
mereka seperti ini mereka berdua selalu bersyukur dengan keadaan yag telah
dikaruniakan Allah kepadanya. Mereka tetap selalu taat kepada Allah dan selalu
menjalankan perintahnya.
Teluk Buyat itulah sebutan pantai yang
indah dan elok bila dipandang. Semua itu sekarang berubah menjadi pantai yang
sepi dan keindahan itu sekarang hilang ak tau kemana. Wenas sering kali pergi
ke Teluk Buyat untuk melupakan kepenatan pikirannya. Dia menikmati indahnya
pantai yang dulu belum tercemar. Wenas juga mempunyai seorang teman di Teluk
Buyat tersebut yaitu Rimbot, Rimang dan Rakin. Mereka bertiga adalah anak
pantai yang tangguh dan merupakan sahabat Wenas yang baik. Meraka berempat
bermain-main di pantai dengan gembira. Keadaan sekarang menjadi berubah, semua
keindahan Teluk Buyat kini sudah menghilang. Air lut yang semakin keruh dengan
ikan-ikannya yang terserang penyakit. Kehidupan disekitar pantaipun sekarang
menjadi sepi dan sunyi, karena banyak warganya mati akibat memakan ikan yang
berpenyakit itu. Ikan-ikan tersebut berbintil-bintil merah dan banyak yang mati
di pinggir pantai. Melihat keadaan seperti itu Wenas sangat sedih sekali.
Lara lapar itulah yang sering dialami
Wenas dan Wak Bajo seakan rasa lapar itu sudah mendarah daging didalam tubuhnya.
Tiada hari tanpa rasa lapar, namun mereka berdua menganggap itu seakan sebagai
kenikmatan yang selalu menemaninya. Dengan rasa lapar itu mereka dapat
menggerakkan semua tubuhnya untuk melakukan pekerjaan meski dengan jalan
sempoyongan. Disuatu hari Wenas sangat merasa lapar sekali dan Ibunya berusaha
menenangkannya untuk memasakkan makanan yang lezat. Padahal Wak Bajo tak
mempunyai bahan makanan untuk dimasak. Wak Bajo membohongi anaknya dengan
memasak air dan batu di panci. Dan menyuruh anaknya untuk menunggu sambil
tiduran. Dikala itu Wak Bajo pergi mennggalkan anaknya untuk pergi kepasar dan
meminta-minta kepada orang di pasar. Setelah lama menunggu masakan itu selesai
akghirnya Wenas pun membuka panci tersebut. Ternyata apa yang dilihat Wenas
dalam panci tersebut sebuah air dan batu yang dimasak dari tadi.
Wak Bajo datang bersama dengan laki-laki
yang bernama Raga kerumahnya. Wenas menyambut kedatangan Ibunya tersebut dengan
wajah marah, karena Wenas merasa dibohongi oleh ibunya. Kenapa Ibu tidak jujur
kepada Wenas. Dari kejadian itulah Wak Bajo sangat sedih sekjali karena dia
merasa bersalah pada anaknya. Disatu sisi dia tida mau melihat anaknya sedih
karena kelaparan. Namun dengan kedatangan Raga semua bisa berubah, karena Raga
adalah orang terpelajar dan banyak uang. Dengan edatangan Raga keluarga Wak
Bajo seakan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Raga memberikan uang ratusan
ribu kepada Wak Bajo. Karena melihat anaknya yang begitu aktif dan sangat
terlihat cerdas sekali, Raga bertanya kepada Wak Bajo kenapa Wenas tidak di
sekolahkan. Akhirnya pikiran itu terlintas di benak Wak Bajo, mengapa dirinya
tidak menyekolahkan anakanya. Dan Wenas
pun senang sekali karena dia sudah mengenal kata-kata sekolah dari pada sebuah
kata-kata pekerjaan yang selalu menemaninya setiap waktu. Kini dia sudah bisa
bercita-cita untuk menjadi orang yang lebih baik.
Dalam keadaan Minahasa yang semakin
parah dengan keadaan pabrik Newmont yang semakin tak beroperasi gara-gara emas
yang mereka olah habis. Keadaan masyarakatpun semakin parah, kelaparan terjadi
dimana-mana. Semua itu terjadi karena mereka mengolah pabrik itu tanpa
memperhatikan lingkungan sekitarnya. Akibatnya limbah tercemar kemana-mana.
Sumber kehidupan mereka semakin tersendat. Akibatnya kelaparan terjadi
dimana-mana. Para Cukong semakin merasa sedih melihat pabrik yang selama ini
memberikan kekayaan yang melimpah kini harus berhenti beroprasi. Ditambah lagi
akibat yang telah disebabkan dari pabrik itu kini Cukong-cukong harus
bertanggung jawab terhadap semua kejadian itu. Karena masyarakat sekitar tidak
tau sebab terjadinya kelaparan itu, jadi seolah-olah Cukong-cukong itu menutup
diri dan tidak mau bertanggng jawab. Tetapi melintas dipikiran Cukong itu untuk
memberikan jasa yang selama ini diberikan oleh pabrik emas itu dengan membrikan
layanan penanaman hutan bakau yang gundul, kesehatan, Pendidikan kepada
masyarakat Ratatotok. Seolah-olah Cukong itu paling berjasa bagi mereka,
padhahal semua itu tidak cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah
dibuatnya dengan mencemari lingkungan. Akhirnya kesempatan Wenas untuk
sekolahpun serasa sudah didepan mata. Akhirnya dengan desakan dari Pak Raga
akhirnya Cukong itu mendirikan sekolah. Bangnannya terlihat sangat megah
sekali. Wenaspun sekarang bisa mendapatkan kesempatan untuk sekolah meski
pikiran Wak Bajo mampu tidak ia menyekolahkan Wenas. Wak Bajo pun menemui Pak
Raga di ingin mengungkapkan semua perasaan yang selalu membebaninya yaitu ingin
menyekolahkan Wenas. Akhirnya Pak Raga membertahukan bahwa Wenas sudah
dititipkan kepada kepala sekolah iitu, jadi Wenas sudah bisa sekolah. Akhirnya
perasaan Wak Bajo senang sekali mendengar kabar itu, aakhirnya dia segera
pulang dan memberitahukan kepada Wenas bahwa keinginannya untuk sekolah sudah
terkabul.
Menjelang sekolah Wak Bajo mempersiapkan
segala kebutuhan peralatan Wenas, seperti menjahitkan baju kepada Wak Mangun,
dia adalah seorang penjahit yang tidak komersial. Wak Bajo ternyata meminta Wak
Mangun untuk mencarikan kain perca merah putih untuk dijahit menjadi seragam
sekolah buat anaknya. Ternyata setelah di cari tidak ada sisa kain yag dapat
dijahit sebagai seragam. Akhirnya Wak Mangun menjahitkan baju dari mengambil
potongan kain penjahit lain. Dan akhirnya seragampun jadi tanpa sepeserpun Wak
Bajo harus membayar. Wak Mangun membrikan seragam itu secara gratis. Kemudian
Wak Bajo pergi ke pasar loak untuk membeli tas dan sepatu. Akhirnya persiapan sekolah sudah disiapkan ibu. Hati
Wenas senang sekali karena besok dia akan sekolah.
Hari senin, itulah awal aku untuk
pertama kalinya bersekolah, pak Raga sudah menghampiriku. Aku pun berangkat
kesekolah dengan Pak Raga dan dengan semua peralatan yang dibelikan ibu
sekarang sudah kupakai semua. Motor bebek Pak Raga menebus jalanan sampai
kesekolah. Wenas masuk kekelas bersama gurunya tepat didepan kellas ternyata
tekadku itu membutuhkan keberanian. Sebuah ejekan dari teman-teman baruku
begitu nyaring ditelingaku.akhirnya akupun memperkenalkan diriku didepan kelas.
Hari demi hari telah berlalu, aku sudah melupakan kesan pertamaku masuk
sekolah. Si Feri dia adalah salah satu temanku yang sulit membedakan huruf vocal
dan konsonan. Dan ada juga Si Runi dan Sakti dia selalu memmintaku untuk
mengajarinya membaca. Belum lama sekolah masalah menimpa Wenas lagi diantaranya
masalah uang. Pihak sekolah memimta uang limaratus ribu untuk biaya sekolahnya.
Wak Bajo pun semakin gelisah darimana cara mendapatkan uang tersebut.
Harapan sekolah Wenas seakan kandas lagi
gara-gara biaya. Wak Bajo ingin meminta tolong lagi sama Pak Raga tetapi dia
sudah bayak membantu. Akhirnya terlalu memikirkan masalah tersebut tiba-tiba
tubuh Wak Bajo lemas dan lemah. Tubuhnya seakan tidak mampu menahan semua
masalah tersebut, kini dia jatuh sakit dan kejang-kejang. Akhirnya Wak Bajo
dibawa ke klinik Sehat Newmont. Dan berhri-hari Wak Bajo menginap di Klinik
tersebut sampai dirinya sembuh total, namun disamping itu Wak Bajo masih
memikirkan nasib sekolah anaknya. Namun naasib berkata lain, dari mana Wak Bajo
mendapatkan uang sebesar itu. Akhirny
Wenas pun mengmbil keputusan untuk berhenti sekolah.
Wenas dengan keputusannya akhirnya pergi
dari rumah dan meninggalkan sekolahnya. Wak Bajo pun merelakan kepergian anak
semata waayangnya meninggalkan dirinya. Wenas ingin mencari pengalaman di luar
sana dan bekerja di luar Ratatotok. Akhirnya Wenas bersaama dengn Ketiga
temnnya Rimang, Rakin, Rimbot. Mereka bertiga adalah teman yang baik meski
nasib mereka miskin. Dan mereka berempat ingin membuktikan bahwa mereka ingin
sukses dengan memadukan kepintaran dan cara kerja mereka. Mereka bertekad untuk
saling membantu demi tercapainya cita-citanya.
Mereka berempat berkumpul dalam malam
bersama sinar bintang rembulan disebuah pntai. Saling merebut hati unuk saling
melengkapi kehidupannya. Saling memberikan pikiran dan pengalamannya untuk
menghadapi kehidupan esok. Keesokan harinya mereka ingin menongsong matahari pagi. Untuk pagi hari ini mereka bertekad
ingin melakukan pekrjaan apapun, seperti menyemir sepatu, menungut
barang-barang bekas sampai menjadi pedagang asongan. Akhirnya mereka semua
berkeempatan menjadi penjual Koran, dengan menjual Koran mereka akan selalu
mendapat ilmu dan uang. Meski teman-teman Wenas belum bisa membaca, namun Wenas
meyakinkan mereka untuk bisa membca sedikit demi sedikit. Mereka akhirnya
bekerja sebagai penjual Koran dikios Pak Japrak.
Pak Japrak merasa senang sekali karena
sudah lama ddirinya tak mendengar canda tawa anak-anak semenjak dirinya menduda.
Setiap hari mereka menjual Koran, dengan bersamaan dengan Mukri. Mereka semua
sekarang bekerja sambil belajar, setiap sore mereka belajar bersama di Kios Pak
Japrak. Wenas mengajari teman-temanya membaca. Dengan kepintran yang
dimilikinya akhirnya membuat teman-temannya jatuh hati kepadanya. Pada suatu
hari salah satu temannya bernama Rimbot mengungkapkan isi hatinya saat Wenas
tidur. Dengan tidak di sengaja Rimang mendengar perkataan itu. Namun Rimang
tidak mau mempermasalahkan soal itu, meski dirinya juga jatuh hati pada Wenas.
Rimang mengalah karena pertemanan akan lebih indah dibandingkan dengan
perebutan cinta. Disaat itu juga Rakin mendengar perkataan Rimbot tadi, namun
berbeda dengan Rimang disini Rakin bersih keras untuk bersaing mendapatkan
cinta Wenas. mereka berdua masih bersih keras mendapatkan hati Wenas. bahkan di
hari istimewa saat mereka bisa membaca tiba-tiba diwarnai dengan saling
perebutan hati Wenas. Wenas merasa sedih sekali kenapa mereka semua cepat
sekali dirasuki setan.
Siang itu saat setelah makan tiba-tiba
Rimbot memberikanku sebuah kado yang dibungkus kertas merah jambu. Dalam kdo
tersebut ternyata berisi bku diary. Tak mau kalah dengan Rimbot Rakin juga memberikan
kado untuk Wenas. ternyata kado yang diberikan Rakin adalah Buku panduan
bermaian sepak bola. Dengan begitu akhirnya Wenas tau bahwa Rakin belum
benar-benar bisa membaca. Ternyata Wenas harus dibohongi oleh temannya sendiri,
disini ternyata ad temanya yang masih belum bisa membaca. Setelah kejadian itu
akhirnya Wenas agak menjahui mereka. Akhirnya mereka minta maaf kepada Wenas,
dengan kebohongan itu Wenas merasa sedih sekali, semua terasa sia-sia
perjuangan membrikan pelajaran kepada mereka. setelaah kejadian kebohongan itu
aku semakin tau sifat-sifat teman-temanku. Dan akhirnya aku bertemu dengan
temanku yang bernama Runi. Runi mengajakku kembali untuk sekolah lagi tanpa
harus membayar uang lima ratus ribu. Asalkan aku mau mengajari Sakti membaca, karena
sampai sekarang Sakti belum bisa membaca. Tawaran itu sangat menggiurkan sekali
buat Wenas, dan akhirnya akupun menyetujuinya untuk kembali kesekolah dan
mengajari Sakti membaca.
Pak Raga datang kerumah Wak Bajo
menanyakan keadaan Wenas, dan apa yang diperolehnya setelah lama ditinggalnya.
Ternyata Wenas tidak sekolah gara-gara uang lima ratus ribu. Pak Raga sedih
sekali mendengar perkataan itu. Wenas pun menepati janjinya dengan Runi didepan
sekolah. Akhirnya mereka berdua pergi kerumah Sakti. Disana mereka mengajari
Sakti membaca. Setelah selesai Wenas dan Runi pamit untuk pulang, namun didepan
rumah Wenas bertemu dengan Pak Raga. Pak Raga bertanya tentang kejadian apa
yang telah dialaminya disekolah. Akhirnya Pak Raga mengajak Wenas untuk
dijadikan saksi, bahwa dia telah diusir dari sekolah gara-gara tidak membayar
uang sebesar lima ratus ribu. Padahal sudah sesuai dengan perjanjian bahwa
sekolah semesta adalah sekolah untuk warga Ratatotok. Pak Raga dan Wenas
menemui Koh Tay Djienyang tak lain adalah kakek Sakti. Dulu Koh Tay Djien
adalah orang yang bertanggung jawab terhadap sekolah tersebut. Setelah bertemu
dengan kakek Sakti akhirnya Pak Raga dan Wenas mendapat kepastian yang jelas
atas dikeluarkannya Wenas dari sekolah semesta. Ternyata sekarang kepala
sekolah dipegang oleh anaknya Tong dan dia lupa dengan janji yang telah
disepakati dulu oleh Koh Tay Djien.
Setelah mendengar kepastian itu Pak Raga
dan Wenas memutuskan untuk tidak kembali lagi kesekolah tersebut dan mereka
berdua telah memaafkan kesalahan Koh Tay Djien. Wenas pun bercerita kalau
dirinya akan membantu teman-temannya anak pantai untuk belajar membaca.
Mendengar perkataan itu akhirnya Pak Raga mendirikan sekolah Kolong Miskin,
sekolah itu diperuntukkan anak-anak miski di kolong jembatan. Pak Raga ingin
membuktikan bahwa sekolah itu hanya butuh uang dan bangunan yang bagus, tetapi
yang dibtuhkan adalah kualitas siswanya. Akhirnya setelah berbulan-bulan
berjalan, Pak Raga ingin membangun sekolah Kolong Miskin tersebut. Dia mengajak
teman-temannya dan warga sekitar untuk peduli terhadap generasi muda kita.
Akhirnya terbangunlah sekolah Kolong Miskin dan gurunya juga tidak hanya Pak
Raga tetapiu ada juga teman-temannya yang suka rela mengajar disekolah Kolong
Miskin tersebut. Akhirnya untuk yang pertama kali sekolah Kolong Miskin
mendapat juara dalam lomba cerdas cermat se-Sulawesi Utara, bahkan menang atas
sekolah Semesta. Setelah mendapatkan juara akhirnya Wenas pulang kerumahnya,
Wak Bajo sangat senang sekali karena Wenas sudah menepati janjinya. Wak Bajo
merasa bahagia sekali melihat anaknya menjadi pintar. Setelah pertemuan yang
bahagia bercampur sedih itu. Wenas pun meminta ijin pada Wak Bajo untuk pergi
dalam waktu yang lama, karena Wenas akan sekolah di Minahasa di Sekolah Kolong Miskin.
Dengan hati yang berat Wak Bajo pun mengikhlaskan anak semata wayangnya untuk
meneruskan cita-citanya.
Rabu, 28 November 2012
Ulah Kaki Kecil
kipas angin di ruang tamuku berputar-putar, debu berterbangan mengotori ruang tamuku
langkah-langkah kaki kecil selalu bermain-main di ruang itu juga, mengeja kata-kata untuk bermain
memang kotor ruang tamu itu, namun kaki-kaki kecil itu tak peduli
mereka selalu bermain-main di tempat itu
semua maina berantakan dan berserakan di ruang tamu
mobil-mobil, kereta-kereta, pesawat-pesawat, kapal-kapal
semua berserakan tak tahu arah
tetapi kaki-kaki kecil itu merasa senag dengan apa yang dilakukannya
berbuat sesuka hati dan keinginan
Selasa, 27 November 2012
Puisi-puisi Eko Cahyono
Silahkan di baca Puisi-puisi karya Eko Cahyono
1.Wahai Kawanku
2. Harapanku
3. Berganti
4. Alkisah Alam Pikir
5. Kebersamaan Kala Senja
6. Lukisan Cinta
7. Bangkai-Bangkai Negeri Ini
8. Bintang Hatiku
9. Kebersamaan
10. Adakah Kata Kebali
11. Hati Berkata
12. Puisiku
13. Senandung Satu Bunga
1.Wahai Kawanku
2. Harapanku
3. Berganti
4. Alkisah Alam Pikir
5. Kebersamaan Kala Senja
6. Lukisan Cinta
7. Bangkai-Bangkai Negeri Ini
8. Bintang Hatiku
9. Kebersamaan
10. Adakah Kata Kebali
11. Hati Berkata
12. Puisiku
13. Senandung Satu Bunga
Langganan:
Postingan (Atom)















